Tuesday, July 13, 2010
Punclut, Bandung
- Fried/grilled Chicken
- Fried/grilled fishes
- fried/grilled Pete (a kind of vegetables)
- boiled vegetables
- fresh vegetables
- Hot spicy Sambel
- and many more
Tuesday, May 18, 2010
Blueberry Cheese cake
Blueberry Cheese cake. Apa sih enaknya? Ada orang yang berspekulasi bahwa makan cheese cake seringkali membuat mereka eneg, tapi apa semua orang setuju? Hmm...
Jujur, saya bukanlah pecinta keju, tapi ketika saya mencicipi blueberry cheese cake buatan Breadtalk, saya serasa tidak ingin berhenti untuk memakannya.
Teksturnya lembut dan agak crunchy di lapis terbawahnya. Saya rasa, itu adalah efek dari panggangan kue. Apalagi jika disajikan agak hangus sedikit, hmm... pasti mantap!! Belum lagi dengan selai blueberrynya yang membuat kita tidak eneg dengannya. Perpaduan yang tepat menurutku. Saya penasaran dengan cara pembuatannya, saya pun langsung browsing dan menemukan sebuah resep yang mudah untuk diikuti.
Bahan:
250 gr biskuit oreo
100 gr margarine lelehkan
1/2 sdt vanili bubuk
kopi instant
200 gr gula pasir
4 butir telur
1 kg cheese cream
250 gr sour cream
250 ml whipped cream
1 sdm gula pasir
250 gr selai blueberry
Cara membuat:
1. Siapkan loyang bongkar pasang 22 cm olesi mentega, sisihkan.
2. Hancurkan oreo hingga halus, lalu tuang margarine leleh, kopi instant dan vanili bubuk, aduk rata.
3. Masukkan adonan biskuit pada loyang, ratakan dan tekan-tekan sampai padat, masukkan ke dalam oven sebentar [5-10 menit] angkat, sisihkan.
4. Kocok gula dan telur hingga kental, masukkan cheese cream dan sour cream bergantian sambil dikocok terus.
5. Tuangkan adonan ini ke dalam loyang tadi, di atas adonan biskuit, lalu oven dengan cara au bain marie [diletakkan di atas loyang yang sudah diisi air] selama 90 menit.
6. Angkat, dinginkan di suhu kamar, hingga benar-benar dingin.
7. Kocok whipped cream dan gula pasir hingga kental, oleskan di atas cheese cake, lalu bekukan dalam kulkas selama 4 jam.
8. Keluarkan, ratakan selai blueberry di atasnya, hias sesuai selera.
9. Potong-potong, sajikan.
Tim Tam Crush
Wafer cokelat yang satu ini benar-benar sanggup membuat lidah bergoyang. serasa dibuai oleh balutan lembut cokelatnya dan ditampar oleh rasanya yang menggigit. Hmm....
Jujur, saya ingin tetap mempertahankan berat badan saya sekarang yang telah dengan susah payah dicapai. Tapi, padatnya cokelat berpadu dengan crunchy wafernya membuat saya selalu ingin membelinya. Wah! Bisa berabe nih.
Harganya cuman Rp.1000,-, bentuknya kecil mirip Beng Beng tapi sanggup membuat anda melambung tinggi di angkasa dan jatuh dalam sungai cokelat, layaknya setting di film Charlie and the Chocolate Factory.
Sunday, April 18, 2010
Cimol
Saturday, April 17, 2010
Bebek Original vs. Bebek Van Java
Hari ini, aku mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang tak pernah ingin kusentuh tetapi seharian ini selalu ada dalam otakku dan bahkan terbayangkan kelezatannya. Bebek! Yup, bebek. Satu-satunya daging unggas yang tak pernah ingin kusentuh, tapi malam ini aku sangat ingin memakannya. Maka, pergilah aku ke Bebek Van Java yang lokasinya ada di Simpang Lima Dago. Cukup mudah untuk mencarinya.
Tiba di sana, kami langsung diberi pilihan apa kami ingin makan di lantai pertama atau kedua. Kami pun tanpa basa basi lebih memilih untuk menyantap masakan mereka di lantai kedua tempat yang terbilang cukup kecil ini. Menu yang disodori juga beragam, meskipun intinya adalah bebek goreng, bebek bakar ataupun ayam goreng. Satu opsi yang membuatku tertarik, yaitu paket berdua yang berisikan bebek original/bebek van java. Aku bertanya apa beda kedua menu ini? Ternyata bedanya terletak pada keremes. Bebek original, tentu saja, memakai kunyit dan digoreng beitu saja serta tidak memakai keremes sedangkan Bebek van java memakai kunyit, kemiri dan sebagainya serta keremes. Hmm... sebuah perbedaan yang cukup mencolok dan mudah ditebak menurutku. Ya sudahlah, kami lebih tertarik untuk memesan beberk original.
Sambalnya yang sudah disediakan di setiap meja pun ada dua jenis, sepertinya yang satu memakai gula merah dan yang satu lagi sambal biasa yang pedasnya WOW! (kata pacarku), yah setidaknya itu menurut observasiku.
Pelayanannya yg tak begitu lama cukup membuatku puas sehingga aku bisa dengan segera mencicipi daging bebek pertamaku. "Empuk," ujar pacarku. Ya, memang dagingnya empuk tapi karena aku memesan bagian paha jadi aku sedikit tidak setuju dengan opininya. Sedangkan dia yang memesan dada, dengan gampang mengoyak setiap inci daging bebek itu. Yum! Enak. Ternyata seperti ini rasa bebek, pikirku. Tapi sayangnya, gambaran otakku tentang bebek yg hidup di sawah tak bisa lepas, alhasil aku memakannya dengan setengah hati. Aaah! Padahal makanannya enak, bisa membuat tempat ini menjadi salah satu tempat yang pantas untuk direkomendasikan.
Mungkin setelah ini, aku akan mencoba untuk mencicipi daging bebek keduaku, Bebek Darmo. Wuuiih, kata orang-orang, sangat enak. Tapi, we'll see.